Once Upon a Time: Kisah Kelam dalam Dongeng

Halo Bookish Journalers! Di Monthly Book Review yang ke-4 ini Bookish Journal akan mengulas novela yang diadaptasi dari dongeng klasik, yaitu Little Red Riding Hood (2018) karya Ruwi Meita dan Snow White (2018) karya L. M. Cendana. Melalui seri It Has Never Been This Dark, kalian akan disuguhkan sudut pandang baru terhadap dongeng. Novela ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang indah banget! 🙂 Dongeng Little Red Riding Hood (2018) diilustrasikan oleh Pola dan dongeng Snow White (2018) diilustrasikan oleh Diwasandhi.

 

Dongeng Grimm Bersaudara

 

Saat mendengar kata fairy tales, secara tidak sadar terlintas bayangan seperti peri, kerajaan, sihir, dan hal-hal ajaib lainnya di pikiran saya. Namun ternyata dunia dongeng tidak melulu tentang akhir yang bahagia. Ternyata ada sisi gelap di dalamnya. Dongeng-dongeng klasik (seperti dongeng dari Grimm Bersaudara) yang beredar pada umumnya telah melewati serangkaian penghilangan dari bagian yang vulgar dan bagian yang mengandung unsur kekerasan.

Ada banyak versi cerita dari Red Riding Hood dan Snow White, namun kita sudah mengenal garis besar cerita-cerita tersebut. Singkatnya Red Riding Hood berkisah mengenai perjalanan seorang anak perempuan yang menyusuri hutan untuk mengantarkan makanan kepada neneknya yang sedang sakit. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan seekor serigala. Pertama-tama serigala menyamar sebagai gadis bertudung merah untuk mengelabui neneknya  dan memangsanya. Kemudian, serigala menyamar sebagai nenek untuk memakan gadis bertudung merah. Di akhir cerita, pemburu membelah perut serigala dan menyelamatkan nenek dan gadis bertudung merah lalu mengganti isi perutnya dengan batu-batuan.

 

Little Red Riding Hood (2018) karya Ruwi Meita

 

Dalam adaptasi dongeng karya Ruwi Meita, pembaca disuguhkan cerita yang lebih detail. Bagian-bagian yang mengalami penghilangan dari cerita klasiknya diisi dengan sudut pandang dan cerita yang baru. Gadis Bertudung Merah dalam dongeng Ruwi Meita bernama Rosso, yang dalam bahasa Italia berarti merah, dan serigala yang bernama Lupo Mannaro. Lupo Mannaro berarti manusia serigala dan juga merupakan makhluk mitologi dari Italia. Saat mulai membaca dongengnya, saya sudah mengetahui kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Walaupun sudah menyiapkan diri, tetap saja saya masih merasa tidak siap dengan adegan-adegan penuh darah. Ceritanya juga semakin hidup dengan hadirnya ilustrasi-ilustrasi dalam bukunya.

Umumnya stereotipe karakter perempuan dalam dongeng digambarkan sebagai pribadi yang patuh dan pasif. Saya senang dengan karakter Rosso karena ia digambarkan sebagai perempuan yang pemberani. Menurut teman-temannya, Rosso tidak mengenal rasa takut. Ia bahkan berani melewati hutan tanpa menginjak jalan setapak. Jalan setapak dibuat untuk melindungi warga dari makhluk-makhluk berbahaya yang ada di hutan, salah satunya adalah Lupo Mannaro. Walaupun keberanian itu pula yang mengantarkan Rosso pada bahaya.  

Beberapa–atau banyak–dongeng dimulai dengan kematian ibu kandung dan pernikahan kedua dari ayahnya. Kemudian ibu tiri memperlakukan pemeran utama perempuan dengan tidak baik. Sama halnya dengan cerita Snow White, setelah kematian ibu kandungnya, raja kembali menikah dengan ratu yang jahat. Selain menampilkan tokoh utama perempuan yang pasif, dongeng juga biasa menceritakan tentang tokoh perempuan yang bermimpi dan menunggu. Karena mereka telah sabar dalam menghadapi perlakuan tidak adil, di akhir cerita mereka mendapatkan hadiah berupa akhir yang bahagia.

 

Snow White (2018) karya L. M. Cendana

 

Untuk dongeng Snow White, garis besar ceritanya sama seperti dongeng klasik. Berkisah mengenai ratu, ibu tirinya, yang mencoba untuk membunuh Snow White demi menyandang predikat sebagai perempuan tercantik. Dalam adaptasi animasi Disney, diketahui bahwa Snow White tinggal berdua bersama ratu. Adaptasi dongeng yang ditulis oleh L. M. Cendana menceritakan keluarga kerajaan secara lebih terperinci. L. M. Cendana mengambil alusi dari mitologi Nordik, kisah Margarete von Waldeck, dan Maria Sophia von Erthal.  

Apakah kalian pernah bertanya-tanya tentang asal-usul ratu (evil queen)? Apa yang sebenarnya terjadi kepada raja dan ratu (orang tua kandung Snow White)? Rasa penasaran kalian akan terjawab dalam dongeng adaptasi Snow White karya L. M. Cendana ini. Jika kalian penasaran, kalian akan mendapatkan perspektif baru dalam dongeng adaptasi L. M. Cendana dan pertanyaan-pertanyaan kalian akan terjawab.

Tidak absen juga kehadiran cermin ajaib, kurcaci, dan apel beracun. Dalam dongeng Grimm Bersaudara, sebelum mencoba membunuh Snow White dengan apel beracun, ratu terlebih dahulu mencoba membunuhnya dengan sisir dan pita. Tetapi kedua percobaan itu gagal karena nyawa Snow White masih dapat ditolong oleh Kurcaci. Namun memang apel berancunlah yang paling ikonik dalam dongeng Snow White. Cermin ajaib dalam dongeng adaptasi ini juga memiliki peranan yang besar.

Dark Fairy Tales ditujukan untuk pembaca 17 tahun ke atas, karena memang terdapat adegan-adegan kekerasan. Saat membaca adaptasi dongeng ini, rasanya seperti nostalgia masa kecil. Tetapi tentunya pemahaman yang didapatkan berbeda. Pembaca akan menemukan sudut pandang baru. Itulah yang membuat dongeng adaptasi sangat menarik bagi saya. Ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi indah yang membuat ceritanya semakin hidup.

Share your thoughts