Yuk Belajar Menulis dari Haruki Murakami

Hai Bookish Journalers! Terkadang saat membaca buku saya akan membayangkan bagaimana usaha si penulis sampai bisa membuat cerita yang mengguggah. Saya juga akan berpikir banyak hal mulai dari ritual penulisan sampai kebiasaan penulis yang bisa kita contoh. Apa kalian juga sering berpikiran seperti itu? Pada akhirnya dari lubuk hati yang paling dalam kita berpikir untuk menjadi penulis. Tapi ketika mulai mengetik satu atau dua kata, akhirnya menyerah dan naskah tidak pernah selesai. Jika begitu, kali ini Bookish Journal mengajak kalian untuk melihat proses menulis dari penulis terkenal, Haruki Murakami.

Haruki Murakami adalah penulis yang lahir pada 12 Januari 1949 di Kyoto, Jepang. Hingga saat ini seluruh penikmat buku mengenalnya sebagai novelis, cerpenis, penerjemah, dan penulis esai. Karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah, Norwegian Wood, 1Q84, Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, dan Dengarlah Nyanyian Angin. Haruki Murakami menghasilkan karya yang banyak disukai oleh pembaca di seluruh dunia.

Dikutip dari otobiografi Haruki Murakami dalam bahasa Jepang, Murakami menceritakan beberapa proses penulisan yang tidak biasa. Berikut beberapa cara menulis seperti Haruki Murakami yang bisa kita contoh.

1. Kebiasaan Membaca

Haruki Murakami berpendapat bahwa seorang penulis harus rajin membaca dan melakukan beberapa kebiasaan yang mungkin juga dilakukan oleh penulis lain. Tiga rahasia yang diungkap oleh Haruki Murakami adalah penulis harus belajar dari kehidupan yang dijalani, penulis harus bisa mengamati semua hal secara menyeluruh, dan penulis harus mencatat hasil dari pengamatannya.

2. Menguasai Bahasa

Haruki Murakami menyarankan penulis harus menulis dengan bahasa yang paling dikuasai. Jangan sampai menulis dengan gaya bahasa yang sulit dipahami oleh penulis sendiri dan calon pembaca. Ceritakan setiap kisah dalam karya seperti ketika kita berbicara dengan teman atau keluarga.

3. Disiplin

Menulis ternyata harus disiplin dan rutin. Seperti kebiasaan Haruki Murakami ketika menulis novel. Ia akan tidur lebih awal dan bangun lebih awal juga. Kemudian ia akan minum kopi buatannya sendiri dan duduk untuk menulis selama 4 sampai 5 jam. Setelah itu Murakami akan berlari karena olahraga akan membuat pikirannya menjadi santai dan dingin, sehingga kemudian ia bisa melanjutkan lagi tulisannya. Jadi kita harus memiliki pola disiplin dan teratur, meskipun tidak sama dengan pola Haruki Murakami.

4. Asli dan Kreatif

Seorang penulis harus memiliki ciri khas sebagai gaya penulisannya. Itu bisa menjadi bukti hasil karya yang asli dan kreatif. Dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa menghasilkan karya dengan dua syarat tersebut.

5. Melawan Writer’s Block

Haruki Murakami menyatakan bahwa ia tidak pernah mengalami writer’s block. Rahasianya adalah menyukai apa yang ditulis dan mengganti aktivitas penulisan. Misalnya setelah menulis novel maka diselingi dengan menulis cerita pendek, blog, dan esai. Dengan begitu ia tidak pernah berhenti menulis.

6. Membangun karakter

Membangun karakter dalam cerita fiksi dianggap sebagai aspek penulisan yang besar. Langkah untuk bisa membangun karakter adalah banyak membaca karya fiksi. Lalu ia juga selalu menciptakan konflik antar karakter yang akan membuat cerita lebih maju.

7. Mengedit

Haruki Murakami tidak suka mengedit ketika sedang menulis. Jadi ia akan menulis beberapa halaman sampai selesai. Lalu setelah selesai maka ia akan istirahat sebentar, lalu ia menulis ulang. Ia akan menyerahkan tulisan itu pada istrinya untuk dikritik. Setelah itu ia akan melakukan proses edit dan memoles cerita. Proses ini ternyata sangat penting untuk menghasilkan cerita yang lebih baik.

Wah begitu ya ternyata cara Haruki Murakami dalam menulis. Yuk kita contoh. Tidak ada salahnya kok belajar dari penulis terkenal Haruki Murakami.

Penulis: Artrias Setiawan

Editor: B. Romansha

Share your thoughts