Monthly Book Review: Girls in the Dark karya Akiyoshi Rikako

 

Halo Bookish Journalers! Di Monthly Book Review kali ini admin mau mengulas novel Girls in the Dark (2009) karya penulis Jepang Akiyoshi Rikako. Ini pertama kalinya saya membaca novel karya Akiyoshi Rikako. Novel-novel karyanya memang terkenal dengan plot twist yang luar biasa. Karena sudah mengetahui fakta tentang ini, saat membaca ceritanya, saya mencoba berpikir di luar kotak. Namun tetap saja dugaan saya tentang akhir ceritanya salah dan saya dibuat terpukau dengan plot twist di akhir cerita.

Karena tidak terlalu familiar dengan nama Jepang, saat awal membaca rasanya sulit sekali mengingat nama-nama tokohnya. Sampai-sampai harus membolak-balikan halaman untuk mengingat dan memastikan nama-nama itu. Tapi hal ini bukan masalah besar hehe.

Sekilas tentang cerita Girls in the Dark (2009), Shiraishi Itsumi, murid SMA Santa Maria yang berkarisma, suatu hari ditemukan meninggal. Entah dibunuh atau bunuh diri, Itsumi ditemukan tewas bersimbah darah sambil memegang bunga Lily. Rumornya, salah satu anggota Klub Sastra lah yang membunuh Itsumi. Dulunya Itsumi adalah ketua Klub Sastra. Setelah kepergiannya, posisi ketua jatuh kepada Sumikawa Sayuri yang merupakan sahabat karib Itsumi. Seminggu setelah kejadian mengerikan tersebut, Klub Sastra mengadakan pertemuan–tradisi Yami-Nabe–sambil mengenang kepergian Itsumi. Yami-Nabe dilakukan setiap akhir semester, tradisi tersebut meliputi pembacaan cerita dari setiap anggota Klub Sastra sambil memakan makanan yang bahan-bahannya tidak mereka ketahui. Tradisi ini dilakukan dalam keadaan gelap. Masing-masing anggota klub membacakan cerita pendek tentang kenangannya bersama Itsumi. Namun, yang membuat pembacaan cerita ini menarik adalah masing-masing anggota membuat analisis tersendiri tentang siapa pelaku pembunuhan Itsumi. Mereka saling tuduh-menuduh.

 

 

Waktu membaca tentang penggambaran salon sastra, rasanya ingin juga bergabung dalam anggota Klub Sastra SMA Santa Maria ini. Salon tersebut digambarkan memiliki desain gotik yang elegan dengan perabotan merek ternama. Memiliki dapur dengan peralatan lengkap, dan yang paling wow adalah rak-rak yang berisi buku-buku. Mulai dari buku-buku karya penulis Jepang sampai sastra klasik Eropa, semuanya ada. Karena ayah Itsumi adalah pengelola sekolah, baginya mendatangkan novel-novel impor dengan harga yang mahal bukanlah menjadi masalah.

Dari sisi plot cerita, kemampuan Akiyoshi Rikako dalam membuat plot twist sudah tidak perlu diragukan lagi. Saat cerita pertama dibacakan oleh Nitani Mirei, belum terlalu banyak pertanyaan yang terlintas. Namun saat giliran Kominami Akane dimulai, banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Setiap anggota Klub Sastra membuat cerita tentang kenangan mereka terhadap Itsumi. Cerita-cerita pendek itu diisi dengan perspektif masing-masing anggota Klub Sastra terhadap kematian Itsumi dan siapa yang membunuhnya. Walaupun diceritakan dari enam sudut pandang, (yang berarti masing-masing orang seharusnya memiliki ciri khas tersendiri dalam menulis) tetapi saya kurang bisa mendapatkan perbedaannya kecuali dalam tulisan Takaoka Shiyo. Mungkin juga karena tema tulisannya “mengenang Itsumi”, jadilah pola masing-masing cerita sama yaitu, menceritakan awal pertemuan, kedekatan, dan analisis kematian Itsumi.

 

Poster Film Ankoku Joshi (2017)

 

Shiraishi Itsumi digambarkan sebagai perempuan dengan kecantikan yang tidak biasa, dia memiliki karisma tersendiri. Murid-murid di SMA Santa Maria mengaguminya. Setelah mendengar cerita-cerita tentang Itsumi dari sudut pandang masing-masing anggota klub, karakter Itsumi semakin menarik. Apakah benar ada yang tega membunuh Itsumi? Saat membaca cerita demi cerita yang dituturkan oleh anggota klub, susah juga untuk menduga siapa pembunuhnya. Setelah membaca beberapa bab, mulai terbersit satu nama, tetapi tetap Akiyoshi Rikako memang lihai membuat plot twist yang sulit ditebak. Novel ini juga sudah diadaptasi ke layar lebar dengan judul The Dark Maidens/Ankoku Joshi di tahun 2017.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati novel ini. Ditambah lagi ini merupakan karya pertama Akiyoshi Rikako yang saya baca, jadi makin penasaran tentang novel-novel lain karyanya. Sejauh ini sudah ada 6 novel karya Akiyoshi Rikako yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Novel Girls in the Dark (2009) dapat dibaca dalam sekali duduk, namun meninggalkan kesan yang dalam, salah satunya adalah tentang pertemanan.

 

Share your thoughts