Berkunjung Kembali ke Hogwarts: Review Novel Harry Potter dan Batu Bertuah

Novel Harry Potter dan Batu Bertuah dengan sampul baru

 

Halo Bookish Journalers! Novel Serial Harry Potter merupakan salah satu novel terlaris dengan penjualan yang mencapai lebih dari 400 juta eksemplar di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam 68 bahasa. Selain novelnya, waralaba film Harry Potter juga sama-sama mendulang sukses. Kali ini Bookish Journal mau mengulas novel Harry Potter dan Batu Bertuah. Ini kali kedua saya membaca novel pertama dari serial Harry Potter. Setelah selang sebelas tahun dari pertama kali saya membacanya, rasanya ingin mengunjungi Hogwarts kembali hehe. Langsung aja yuk Bookish Journalers kita baca ulasan selengkapnya 😀

Mungkin Bookish Journalers sudah familiar dengan cerita Harry Potter. Untuk sekilas mengingatkan, Harry Potter dan Batu Bertuah menceritakan tentang petualangan Harry Potter  dan kedua sahabatnya–Ron Weasley dan Hermione Granger–dalam memecahkan misteri yang terjadi di sekolah sihir Hogwarts. Misteri tersebut berhubungan dengan batu bertuah milik Nikolas Flamel. Batu bertuah dapat memberikan kehidupan yang abadi.  

Setelah kematian kedua orang tuanya–James dan Lily Potter–Harry tinggal dan dibesarkan oleh keluarga Dursley, mereka adalah Paman Vernon, Bibi Petunia, dan anak mereka yang bernama Dudley. Di Privet Drive Nomor 4, Harry diperlakukan dengan sangat tidak adil. Ia bahkan tidur di kamar bawah tangga yang penuh dengan laba-laba, memakai pakaian bekas Dudley, dan selalu menjadi korban bullying dari Dudley dan teman-temannya.

Setelah pengalaman buruknya dengan keluarga Dursley, di ulang tahun Harry yang ke-11 Hagrid memberi tahu Harry bahwa ia adalah seorang penyihir. Paman Vernon dan Bibi Petunia menentang kepergian Harry ke sekolah sihir Hogwarts, tentunya. Sebagai seorang muggle, ada ketakutan tersendiri bagi keluarga Dursley mengenai hal yang berhubungan dengan sihir. Terlebih lagi kejadian-kejadian aneh yang sering mereka rasakan ketika bersama Harry. Contohnya seperti kaca di kebun binatang yang tiba-tiba lenyap sehingga Dudley terjatuh dan terperangkap di dalam kandang ular.

 

Harry Potter dan Batu Bertuah

 

Sebelas tahun berselang, rasanya masih sama seperti tersihir oleh buku yang ditulis oleh J. K. Rowling ini. Mantra yang membuat saya untuk terus membalikkan halamannya dan terus membaca. Dalam pembacaan ulang novel pertama Harry Potter ini, saya mendapat detail-detail kecil yang sudah saya lupakan. Saya bahkan melupakan bahwa nama Gellert Grindelwald (antagonis dalam waralaba film Fantastic Beasts) bukanlah nama yang asing! Nama penyihir Gellert Grindelwald  pertama kali disebutkan dalam novel pertama Harry Potter saat Harry dan Ron memakan permen dan makanan lainnya di Hogwarts Express. Disebutkan di bungkus chocolate frog bahwa Albus Dumbledore dikenal karena mengalahkan penyihir ilmu hitam Grindelwald di tahun 1945.

Menurut saya, novel Harry Potter adalah paket lengkap…kenapa? Karena terdapat banyak subgenre dalam novel ini, ada fantasi, misteri, thriller, dan juga petualangan. Terlebih novel serial Harry Potter menceritakan dunia yang penuh sihir sehingga membuat pembacanya dapat mengasah daya imajinasi akan the wizarding world. Siapa saja yang ingin mendapat surat dari Hogwarts seperti Harry setelah membaca atau menonton film ini?

Bagian favorit saya dalam novel ini adalah saat Hagrid datang dan memberi tahu Harry bahwa ia adalah seorang penyihir dan sekilas menceritakan latar belakang kedua orangtuanya. Di momen inilah akhirnya Harry mengetahui jati dirinya. Menjawab semua pertanyaan kenapa hal-hal aneh selalu terjadi ketika dirinya kesal atau marah. Momen ini juga menjadi gerbang bagi Harry untuk mengenal dunia sihir yang merupakan dunianya dan lepas dari keluarga Dursley (setidaknya Harry hanya perlu tinggal dengan keluarga Dursley saat liburan musim panas).

Secara keseluruhan, novel Harry Potter dan Batu Bertuah menyajikan cerita yang fantastis dengan penggambaran tentang dunia sihir yang mendetail. Saya sangat kagum dengan J. K. Rowling karena ia amat sangat memperhatikan dan memberi detail dan latar belakang kepada setiap karakter-karakter yang ia ciptakan. Bayangkan ada berapa banyak karakter yang terdapat dalam universe Harry Potter ini. Belum lagi detail tentang Hogwarts, sejarahnya, dan masih banyak lagi. Mungkin sebagian dari detail-detail ini hilang saat diadaptasi menjadi film. Maka dari itu Bookish Journal ingin merekomendasikan novel serial Harry Potter untuk Bookish Journalers yang belum membaca bukunya 😀

 

 

Share your thoughts